BATU GAJAH SEBAGAI PRASASTI SUNGAI GAJAH WONG

Published By: Hari Palguna Jum, Mar 29th, 2013

WatuGajahSungai Gajah Wong adalah sungai yang memotong Kota Yogyakarta di bagian timur, sungai ini mempunyai panjang hanya 20 km, berhulu pada sejumlah sungai kecil, yang bersatu di daerah Kabupaten Sleman bagian Tenggara, selanjutnya mengalir ke arah selatan dan bertemu dengan sungai Opak di daerah Kabupaten Bantul. Jika dibandingkan dengan dua sungai lainnya, yang memotong Kota Yogyakarta yaitu sungai Code dan sungai Winongo, sungai Gajah Wong merupakan sungai yang berukuran terkecil dan merupakan satu-satunya sungai yang tidak berhulu di kaki Gunung Merapi. Meskipun demikian sungai Gajah Wong juga mempunyai air dengan volume besar dan ber-arus kuat di suatu kejadian tertentu. Sampai sekarang sungai ini masih cukup bahaya jika banjir, hampir tidak mungkin barang-barang yang berada di badan air sungai tersebut tidak akan hanyut. Hanya sebuah batu yang berukuran tidak begitu besar, berada di tepi barat sungai Gajah Wong, di tengah lokasi Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka, telah lebih lima abad posisinya tidak pernah bergeser. Batu tersebut dikenal oleh sebagian masyarakat Kota Yogyakarta, dan disebut sebagai Watu Gajah. Watu dimengerti sebagai Batu, maka kemudian dapat disebut sebagai Batu Gajah.

Berdasarkan ceritera yang dituturkan secara lisan, selama kurun waktu lebih dari lima abad, ternyata Batu Gajah berkaitan erat dengan nama sungai Gajah Wong, dan Panembahan Senopati Ingalogo yang bertahta di Perdikan Alas Mentaok, yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Mataram Islam Kota Gede, pada akhir abad 16 hingga awal abad 17, karena pada tahun 1613 kerajaan ini pindah ke daerah Pleret, di wilayah Kabupaten Bantul, di masa Sultan Agung Hanyokrokusumo bertahta. Panembahan Senopati Ingalogo adalah anak Ki Juru Pemanahan, di masa kecilnya bernama Danang Sutowijoyo, ia adalah penerus Ki Juru Pemanahan, penguasa bumi perdikan Alas Mentaok. Ki Juru Pemanahan mendapatkan bumi perdikan Alas Mentaok dari Sultan Kerajaan Islam di Pajang, Sultan Hadiwijoyo karena jasa Ki Juru Pemanahan yang berhasil membunuh Hario Penangsang, dari Jipang Panolan, seorang musuh dari Sultan Hadiwijoyo.

Batu Gajah merupakan prasati atau tetenger suatu peristiwa dan kemudian dikenali sebagai ceritera rakyat. Di waktu dahulu Panembahan Senopati Ingalogo yang bertahta di Kerajaan Islam Kota Gede mempunyai beberapa binatang kesayangan, salah satunya seekor gajah jantan yang diberi nama Kyai Dwipangga. Kyai Dwipangga dirawat oleh seorang serati yang bernama Ki Sapa Wira dan adiknya yang bernama Ki Kerti Pejok. Hampir semua tanggung jawab perawatan Kyai Dwipangga dilakukan oleh Ki Sapa Wira, namun jika ia berhalangan, mungkin karena sakit atau ada keperluan lain maka Ki Kerti Pejok pastilah yang menggantikannya. Menurut ceritera pada waktu Ki Kerti Pejok menggantikan pekerjaan Ki Sapa Wira,  memandikan Kyai Dwipangga di sungai yang berada di bagian barat kerajaan, langit waktu itu begitu cerah dan matahari menyengat, air sungai juga tidak seberapa. Kyai Dwipangga dan Ki Kerti Pejok telah berada di tengah sungai, dengan perintah Ki Kerti Pejok, maka dengan suka hati Kyai Dwipangga duduk dengan kedua kaki depannya dijulurkan, dan kedua kaki belakang seperti dalam posisi timpuh. Ki Kerti Pejok memperhatikan air yang ada di sekeliling Kyai Dwipangga, ternyata tidak semua bagian perut dan kaki gajah itu dapat menyentuh air, bahkan  kelihatan kerikil dan pasir mengotori sebagian perut Kyai Dwipangga. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan Ki Kerti Pejok seakan menyalahkan Panembahan Senopati Ingalogo, “betapa tidak bijaknya raja itu,” pikirnya, mengapa gajah yang begitu besar ini harus dimandikan di sungai ini yang airnya sangat sedikit, dan tidak dicarikan di tempat lain yang airnya melimpah. Tidak disadari oleh Ki Kerti Pejok dibagian hulu sungai itu, di bagian utara, awan  hitam bergulung-gulung dan telah terjadi hujan yang sangat lebat, airnya pun memenuhi sungai itu dan arusnya sangat deras, maka serta merta menghanyutkan Ki Kerti Pejok dan Kyai Dwipangga, hingga tidak lagi diketahui jasadnya. Kemudian kabar peristiwa itu disampaikan oleh Ki Sapa Wira kepada Panembahan Senopati Ingalogo. Dengan perasaan sedih  Panembahan Senopati Ingalogo bergegas melihat tempat kejadian peristiwa itu, dan oleh Panembahan Senopati Ingalogo ditunjuklah  sebuah batu yang berada di sungai itu sebagai prasasti atau tetenger bahwa sungai itu diberi nama sungai Gajah Wong.  Gajah menunjuk Kyai Dwipangga dan Wong menunjuk Ki Kerti Pejok yang hanyut di sungai tersebut. Kemudian batu yang ditunjuk oleh Panembahan Senopati Ingalogo itu sampai sekarang tetap dikenali sebagai Batu Gajah.

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
BATU GAJAH SEBAGAI PRASASTI SUNGAI GAJAH WONG, 4.0 out of 5 based on 1 rating
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions