MEMBANGUN KERJASAMA TIGA PILAR KELEMBAGAAN UNTUK MEMBANGKITKAN USAHA KECIL MENENGAH KELOMPOK PEMBUDIDAYA LELE DUMBO SISTEM TERPAL

Published By: Hari Palguna Kam, Sep 29th, 2011

“Solusi dari permasalahan yang dihadapi Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN)  Lele Dumbo Sistem Terpal di Daerah Istimewa Yogyakarta”

Proyek peningkatan produksi ikan konsumsi budidaya Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk meningkatakan produksi hasil perikanan, khususnya komuditas lele dumbo menunjukkan hasil yang memuaskan. Program tersebut melalui pemberdayaan masyarakat, berupa Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal. Dalam pelaksanaan program setiap Pokdakan mendapatkan bantuan berupa terpal, bibit lele dumbo dan pakan untuk satu kali panen. Hasilnya ternyata mampu meningkatkan produksi lele dumbo rata-rata di atas 200 %,  kecuali kota Jogja. Lebih dari 3.125 ton dihasilkan lele dumbo ukuran konsumsi.

Namun hal tersebut meninggalkan sejumlah masalah di Pokdakan seperti sarana produksi tidak dapat difungsikan kembali setelah panen dua kali, bibit lele yang ditebar kualitasnya kurang baik sehingga banyak terjadi kematian dan ukuran lele dumbo saat panen tidak seragam. Penguasaan Pokdakan terhadap teknologi budidaya lele dumbo sistem terpal belum sepenuhnya baik. Penentuan harga jual hasil panen lele dumbo ukuran konsumsi sepenuhnya ditentukan oleh pedagang, sebagaimana dicontohkan saat harga di konsumen mencapai Rp15.000,-, harga di Pokdakan tetap brendah yakni Rp 9.500-10.500,-

Berdasarkan perhitungan Pokdakan Karang Taruna Bima Muda, dusun Prangwedanan, desa Potorono, kecamatan kabupaten Bantul yang diketuai Rudi Iswandi, beranggotakan 20 orang yang masing-masing anggota mengelola satu kolam yang berukuran (4 x 5) m2. Setiap panen dari satu kolam terpal ukuran (4 x 5) m2 yang ditebar bibit lele dumbo sebanyak 350 ekor ukaran B3 = 5-7 cm, dihasilkan lele dumbo ukuran konsumsi seberat 300 kg setelah dipelihara selama 80 hari dan dijual kepada pedagang dengan harga Rp3.000.000,-. Sedangkan biaya pokok produksi berupa harga bibit Rp510.000,- dan harga pakan Rp2.070.00,-, jadi sisa keuntungan kotor Rp420.000,-

Keuntungan kotor Rp420.000,- tersebut jika kemudian dikurangi biaya operasional produksi paling banyak tinggal sisa Rp200.000,- yang tentu saja menyebabkan anggota Pokdakan tidak akan mampu lagi meneruskan usahanya kembali.

Permasalahan seperti tersebut di atas hampir dihadapi sebagian besar Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari permasalahan tersebut tentu saja diperlukan upaya pemikiran dan langkah-langkah kongkrit yang efisien dan efektif sehingga usaha Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal tetap bisa melanjutkan usahanya, dan dapat berkembang.

Oleh karena itu konsep pemikiran ‘Membangun Kerjasama Tiga Pilar Kelembagaan Untuk Membangkitkan Usaha kecil Menengah Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal’. Tiga pilar yang dimaksud adalah Pokdakan Pembibitan Lele Dumbo, Pembesaran Lele Lumbo Sistem Terpal, dan Pemasaran Lele Dumbo. Konsep ini perlu ditawarkan, diharapkan kerjasama yang dibentuk nantinya dapat bersinergi dan bekerja secara efektif dan efisien. Kesadaran mencapai tujuan bersama pada setiap pilar harus ditumbuhkan dan dikembangkan.

Namun keberadaan Kerjasama Tiga Pilar Kelembagaan Untuk Membangkitkan Usaha kecil Menengah Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal tersebut tidaklah mungkin dibentuk, diprakarsai  oleh Pokdakan, atau salah satu pilar pembentuk. Hal ini dikemukakan Teguh Setiawan, sekretaris Pokdakan Karang Taruna Bima Muda, dusun Prangwedanan, desa Potorono, kecamatan kabupaten Bantul, karena alasan keterbatasan. Oleh karena itu diperlukan prakarsa dari pemerintah yang bersifat sebagasi fasilitator yang aktif dan mampu meregulasikan usaha di sektor tersebut. Selain itu diperlukan peran perguruan tinggi yang mempunyai fungsi pengabdian kepada masyarakat untuk dapat membantu merumuskan konsep kerjasama antara pilar, di tiga pilar dan mampu mendorong perkembangan usaha mereka.

Sebagai awal pemikiran, diharapkan di tiga pilar usaha tersebut mampu menjalan fungsi-fungsinya antara lain:

Petani bibit lele dumbo, mampu mengasilkan bibit lele dumbo yang mempunyai kualitas yang baik, jumlahnya mencukupi seluruh kebutuhan Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal, dan harganya dicapai kesepakan  yang ber-amsumsikan di kedua pihak mencapai keuntungan bersama. Bibit lele dumbo yang berkualias dapat dihasilkan jika (1) induknya berkualitas, (2) teknologi pembibitan, dan penangan bibit hingga tempat pembesaran baik. Disini pemerintah diharapkan memberi bantuan bibit lele dumbo yang diperoleh dari Balai Benih Ikan Air Tawar “Sukabumi” yang tentu kualitas harus diuji benar-benar baik. Peran perguruan tinggi yang diharapkan yaitu mampu mentraper teknologi sehingga benar-benar dikuasai petani pembenih lele dumbo.

Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal, mampu menerapkan teknologi pembesaran lele dumbo sistem terpal, sehingga dapat mencapai hasil-hasil antara lain: (1) waktu panen pendek, (2) jumlah kematian sedikit, (3) pertumbuhan cepat, ukuran seragam, dan (4) jumlah panen dapat kontinyu dengan terukur dengan pasti. Di sini pemerintah diharapkan punya peran dapat memberikan bantuan awal berupa bibit lele dumbo  yang berkualitas baik, terpal yang mempunyai standar baik untuk kolam terpal, dan pakan yang berkualitas. Untuk budidaya lele dumbo selanjutnya, pasca bantuan, pemerintah  harus berperan memfasilitasi transaksi pembelian pakan antara Pokdakan Lele Dumbo Sistem Terpal dengan pabrik pakan, sehingga harga pakan di Pokdakan tidak jauh lebih mahal dari harga pabrik. Peran perguruan tinggi yang diharapkan yaitu mampu mentraper teknologi sehingga benar-benar dikuasai petani pembenih lele dumbo.

Pedagang atau Pengepul Lele Dumbo, mampu sebagai mitra yang baik di hilir usaha perikanan, khusunya usaha kecil menengah usaha lele dumbo. Pedagang diharapkan mempunyai pemikiran positip terhadap kelangsungan usaha di sub-sektor usaha perikanan ini. Langkah-langkah yang diharapkan melakukan transaksi ayng normal dalam hal kesepakatan harga, penimbangan dan waktu pengambilan pasca panen. Peran pemerintah yang diharapkan yaitu: (1) membentuk ‘rumah’ bersama, mungkin berbentuk koperasi, (2) memfasiliasi dengan pihak bank dalam pembelian lele dumbo ukuran konsumsi dari Pokdakan, diharapkan regulasi bisnis di sub-sektor ini bisa lancar. Peran perguruan tinggi yang diharapkan yaitu mampu mencari alternatif-alternatif pemikiran, terobosan jika terjadi masalah-masalah yang akan timbul dikemudian hari.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
berbagi dengan temanShare on FacebookTweet about this on Twitter
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions