PANTAI NGOBARAN, titik akhir perjalanan sejarah kerajaan Majapahit

Published By: Hari Palguna Jum, Nov 25th, 2011

Gambaran Fisik Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran merupakan salah satu pantai yang ada di kabupaten Gunungkidul, keindahan alamnya sudah tidak diragukan lagi. Perbukitan kapur, batuan kars yang menjulang tinggi dengan lekukan-lekukan gua yang khas, tebing curam dan hamparan pasir putih yang setia menghadang deburuan ombak. Gelegar suara yang dikeluarkan bagai mengiringi nyanyian para dewa, dan angin yang menerpa tubuh, menerpa daun telinga  terasa bisikan gaib tentang sejarah lama, manusia jawa.

Pantai Ngobaran terletak di desa Kanigoro, kecamatan Saptosari. Pantai ini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dari kota Jogja, kira-kira 65 km. Perjalanan dari Jogja melalui kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul terus naik ke arah selatan, memasuki kabupaten Gunungkidul melalui kecamatan Patuk. Setelah lepas Hutan Pendidikan Wanagama, sampai di pertigaan Gading, jauh sebelum kota Wonosari maka arahkan kendaraan ke kanan, ke arah kecamatan Playen, kecamatan Paliyan, melalui Trowono melewati hutan Sodong,  maka akan sampai desa Kanigoro dan temukan petunjuk arah ke  pantai Ngobaran.

Eksotisme Pantai Ngobaran

Menikmati Keindahan alam pantai Ngobaran tidak akan habisnya, pantai ini memang eksotik, dari pagi hingga malam hari banyak yang dapat dinikmati. Jika air laut pasang maka deburan demi deburan ombak yang menghantam teping kars yang curam menimbulkan suara-suara yang menyenangkan, percikan air dan buih ombak amat indah. Kalau air laut sedang surut akan muncuk ke permukaan hamparan rumput laut yang berwarna hijau atau coklat mirip persawan dan perkampungan penduduk berselang seling. Jika kita menghampiri maka akan dapat ditemui aneka flora dan fauna, amat kaya jenisnya dari terumbu karang, macam-macam alga, landak laut, kerang, bintang laut, udang, lobster, ikan hias. Juga dapat ditemuai fenomena alam yang amat menarik yakni adanya deburan ombah di bawah kaki, di antara celah-celah batuan karang. Di waktu sore hari jika kita naik di atas bukit maka akan dapat dilihat sun set yang tepat di belakang bangunan pura. Di waktu malam hari dapat dirasakan betapa dingin dan semilirnya angin laut, langit yang se akan mengerti bahwa kita adalah bagian dari sejarah panjang.

Makanan yang bisa dinikmati dan biasa dihidangkan di warung yang ada di pantai Ngobaran yaitu Nasi sayur rumput laut dengan lauk ikan, atau landak laut goreng. Enak jika dinikmati dengan minum teh hangat dan merupakan sensasi kuliner yang tidak patut ditinggalkan jika berkunjung di pantai ini.

Kulturisme Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran adalah bagian sejarah kerajaan Majapahit, merupakan titik akhir perjalan panjang kerajaan itu, kerajaan yang pusat pemerintahannya di Trowulan, Jawa Timur. Akhir kerajaan Majapahit dimulai dari lemahnya sistem pemerintahan dan bersamaan dengan berdirinya kerajaan-kerjaan Islam di pesisir utara pulau Jawa pada pertengahan abad ke 15 M. Suatu kenyataan salah satu putra raja Brawijaya V, yakni Raden Patah adalah penguasa kerajaan Demak I, kerajaan yang berada di pesisir utara. Perkembangan agama Islam di pulau Jawa amat pesat, hingga sampai menyentuh pusat kerajaan Majapahit dan kemudian kerajaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi. Raja Brawijaya V bersama salah satu putranya yakni Bondan Kejawan meninggalkan kerajaaan Majapahit, berjalan ke arah barat dan sampai di suatu tempat yang amat damai, disitulah Raja Brawijaya V berserta putranya mangkat. Semasa Bondan Kejawan hidup, terjadi interaksi antara masyarakat dengan pangeran, kemudian tutur kata dan perbuatan sang pangeran, Bondan Kejawan dikenang oleh masyarakat setempat , dan sampai sekarang dikenal sebagai aliran kepercayaan “kejawan”. Maka di pantai Ngobaran terekpresi betapa di situ terdapat nilai-nilai luhur tentang kebhineka-an. Di pantai Ngobaran dapat di temui bangunan Joglo tempat peribadatan aliran Kejawan, masjid tempat peribadatan umat Muslim, dan pura tempat peribadatan pemeluk agama Hindu. Masjid di pantai Ngobaran tampak menyatu dengan alam, lantai masjid ini tetap pasir, hanya diberi alas tikar, menghadap ke arah laut, ke arah selatan tidak seperti biasanya masjid-masjid  di Gunungkidul menghadap ke arah timur, namun arah kiblat tetap sama ke arah barat.

Dimuat: Majalah Koneksi Bisnis

 

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: -1 (from 1 vote)
PANTAI NGOBARAN, titik akhir perjalanan sejarah kerajaan Majapahit, 1.0 out of 5 based on 1 rating
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on FacebookTweet about this on Twitter

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. Bukti tentang sejarah masa lalu sekitar abad 1400 saka bukan masehi lo karena pada masa itu islam belum masuk ke indonesia, bahwa kerajaan Majapahit berakhir dengan penanggalan jawa berbunyi sirna ilang kertaning bumi. sejak itulah paduka brawijaya V/Kertabumi bersumpah dihahadapan penjajah yang kudeta,”jika kelak nanti sudah genap 500 tahun maka hak-hak yang menjadi orang jawa njawani akan diambil paksa. buktinya adalah muncul peristiwa musibah ada gempa bumi, tanah longsor, angin topan, boleh percara dan boleh tidak walauhu alam hanya tuhan yang tahu.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions