RITUAL RUWAHAN

Published By: Hari Palguna Kam, Jun 21st, 2012

Tanggal 21 Juni 2012 Masehi bertepatan dengan Kemis Legi, suryo kaping 1 wulan Arwah/Ruwah 1945 Wau, memasuki 1 Sya’ban 1433 H orang jawa diingatkan suatu tradisi yakni Ruwahan, yaitu suatu ritual yang dilakukan orang jawa yang berhubungan dengan membersihkan dusun,  desa dan makam. Melakukan selamatan dengan do’a bersama di rumah atau di mak

 

am saudara, makam leluhur, mengantarkan punjungan, megengan yang berupa makanan untuk saudara dan orang yang dihormati di dusun atau desa. Punjungan makanan tersebut berupa berbagai jenis makanan, namun ada 3 jenis makanan yang tidak boleh dilupakan yaitu ketan, kolak dan apem.

Bagi orang jawa ritual Ruwahan bukan hanya milik umat pemeluk agama tertentu, misalnya muslim, juga bukan milik aliran kepercayaan tertentu, akan tetapi telah menjadi milik seluruh orang jawa. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah, pada mulanya dimasa kerajaan Majapahit, Ratu Tribuana Tunggadewi melakukan ritual Sradha yakni berdo’a untuk arwah ibundanya yakni Ratu Gayatri dan kemudian hal tersebut diteruskan oleh Raja Hayam Wuruk dan menjadi tradisi. Sebagai pengingat waktu dilakukan ritual Sradha, kemudian dikenal sebagai nyadran yang  berarti sangkan paraning dumadi, penyadaran tentang kehidupan dan kematian, maka bulan tersebut juga dikenal sebagai bulan arwah.

Kemudian pada masa syiar agama Islam, oleh Wali Songo, Wali sembilan, di Jawa bagian tengah dikenal Sunan Kalijogo. Sunan Kalijogo merupakan salah satu sunan yang amat bijak melakukan akulturasi budaya agama, menjadikan ritual Srada menjadi momentum untuk syiar agama Islam dan kemudian disesuaikan dengan ajaran agama Islam meskipun di dalam ajaran Islam tidak ada, terlebih jika dihubungkan bulan yang tiba berikutnya yakni bulan Ramadhan, maka produk Sunan Kalijogo tersebut yang kemudiaan dapat dikenal sebagai bentuk kearifan lokal. Di dalam ajaran Islam dikenal bagi orang yang meninggal dunia seluruh amalnya terputus kecuali tiga hal yaitu: amal jahiriyah, ilmu yang bermanfa’at, dan do’a anak yang sholeh. Maka pada bulan Ruwah di lakukan oleh orang Jawa melakukan tiga hal tersebut sebelum memasuki  bulan Ramadhan. Melakukan sedekah berupa kenduri, punjungan, membersihkan dusun, desa, dan makam merupakan bentuk amal jahirizah. Melakukan ritual ruwahan bersama anggota keluarga, warga masyarakat secara tertip yang dapat dilangsungkan kapan saja dari tanggal 1 Ruwah hingga memasuki bulan Ramahan adalah bentuk menularkan ilmu, kearifan lokal yang bermanfaat. Melakukan  do’a secara pribadi, bersama keluarga, bersama masyarakat adalah manifestasi sebagai anak yang sholeh.

Berbagai siimbul di kenalkan pada ritual ruwahan yaitu antara lain: (1)) Punjungan yang beriasi makanan ketan yang berarti mempererat tali persaudaraan, kolak yang rasanya manis hendaknya hubungan persaudaraan menjadi harmonis, rukun dan menyenangkan, dan apem yang berarti saling memafkan diantara anggota keluarga, atau masyarakat. (2) Pada waktu berdo’a di makam membakar kemenyan, membawa bunga telon, atau bunga selasih yang semuanya beraroma wangi, dimaksudkan hanya yang baik-baik saja dapat dibicarakan dari orang yang sudah meninggal, sedangkan yang buruk harus dilupakan. Selanjutnya dapat di harapkan yang hidup berlomba-lomba menuju kebaikan. Maka saat itu orang jawa telah melakukan ritual pembersihan diri. Kemudian orang jawa yang beragama Islam akan melakukan ritual padusan, mandi keramas untuk memasuki ibadah puasa pada bulan Ramadhan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions