SEPENGGAL BERSAMA MAESTRO PERUPA AFFANDI

Published By: Hari Palguna Sen, Jul 9th, 2012

Berita tentang launching buku yang berjudul The Stories of Affandi di Museum Affandi , Jln Adisucipto Minggu (8/7) malam, yang menandai peringatan 100 tahun Affandi.  Sepertinya mengingatkan aku, pengalaman bersama bapak Affandi puluhan tahun lalu, baru saja terjadi. Menurut berita yang ditulis di Tribun (9/7) buku itu memuat tulisan-tulisan tentang Affandi oleh 15 orang seniman saat memotret sisi lain dari sosok Affandi. Mereka adalah nama-nama besar , semisal: Ajib Rosidi, Umar Kayam, Daoed Joesoep, Mia Boestam, Nashar, Nasjah Djamin, dan lainnya. Dan juga ditulis peluncuran buku dilakukan oleh Dr. Hatta Rajasa, buku tersebut dibandrol Rp 1,25 Juta, yang terakhir ini bagi saya tidak lebih penting dari kebesaran Affandi sebagai maestro perupa Indonesia.

Baru saja kemari, sebelum aku meninggalkan kantor, hari minggu biasa aku tetap masuk kerja, sempat aku ceriterakan dengan teman sekantor, pengalaman aku tentang  bapak Affandi, ia adalah seorang besar dengan karya-karya besar, ia adalah sosok yang terus bergerak dan mampu menggerakkan dirinya oleh apa saja disekitarnya sampai akhir hayatnya.

Pada tahun 1980-an saya bersama-sama dengan teman-teman mahasiswa perupa UGM tergabung di dalam Kelompok Bulak Sumur yang lebih kami kenal sebagai KBS. Tentu kami, termasuk saya, seperti generasi muda lainnya waktu itu punya mimpi menjadi orang besar. Kami terus berkarya, diskusi, pameran, dan tidak jarang mengunjungi pelukis-pelukis ternama yang ada di Yogyakarta dan mungkin kota-kota lainnya. Tidak jarang juga kami kunjungi museum Affandi, saking seringnya, kemudian diakrabi  bapak Affandi dan ibu Maryati, meski kadang merasa malu, aku lakoni aja. Kadang saya berkempatan diskusi dengan bapak Affandi atau ibu Maryati, mereka amat baik dan ramah. Jika saya datang dan bertepatan museum baru saja ditutup,  maka dengan spontan ibu Maryati akan menyeruh pembantunya untuk membuka kembali. Pengalaman seperti itu kadang terulang, tetapi bapak Affandi dan ibu Maryati iklas melakukannya dan tidak jarang kami lalu terlibat dalam diskusi tentang karya seni, khususnya lukisan.

Satu momen yang tidak mungkin dilupakan untuk hidup aku, yakni diskusi disuatu sore dengan bapak Affandi, di Museum di bagian barat. Bapak Affandi waktu itu duduk di kursi, tubuhnya sudah amat rapuh karena umurnya memang sudah tua. Seperti orang-orang tua lainnya, bau pesing-pun sering menyeruak. Bapak Affandi waktu itu memakai kain sarung dan kaos oblong warna putih. Di depan kami terpampang satu lukisan yang disandarkan di dinding sisi timur museum dan merupakan satu di antara puluhan lukisan lainnya. Satu lukisan itu menggambarkan beberapa ekor ayam di bawah rumpun bambu, di atas kain kanpas kira-kira (110 x 150) cm2 yang baru saja diselesaikan. Batang-batang bambu dan ayam-ayam yang di lukisan itu sepertinya terus bergerak dan dinamis. Namun sapuan cat-nya tidak sekuat lukisan-lukisan sebelumnya. Waktu bapak Affandi saya tanya “mengapa bapak tidak berhenti saja melukis, biarlah generasi muda akan mengambil dan melampui bapak?”, “bukankah tubuh bapak sudah semakin lemah?”. Jawaban bapak Affandi diluar yang aku duga, _” tidak mungkin, aku biarkan generasi muda mengambil dan melampui aku sedang aku berhenti melukis, biarlah mereka melampaui aku saat aku masih melukis.!”, kemudian, _“ bukankah tubuh ini masih mampu aku gerakkan untuk melukis”, lalu bapak mencoba menunjukkan lukisannya yang memang dari tadi sudah menjadi pembicaraan kami. Satu pertanyaan lain, diwaktu kesempatan lainnya “ bagamaina cara untuk menjadi pelukis besar”. Bapak Affandi waktu itu menjawab, _” melukislah terus, dan jangan pernah berhenti”

Kemudian beberapa bulan selanjutnya bapak Affandi meninggal dunia, jenasah disemayamkan dan dikuburkan di museum Affandi di Jalan Adisucipto itu. Waktu itu banyak orang bertajiyah, aku ada diantara mereka memberikan penghormatan terakhir. Dr. Fuad Hasan juga hadir yang datang sebagai pribadi seniman dan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Selamat berdamai bapak Affandi di sisi Tuhan.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on FacebookTweet about this on Twitter

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions