SOLUSI PERMANEN GONJANG-GANJING HARGA KEDELAI

Published By: Hari Palguna Kam, Jul 26th, 2012

Berita di berbagai media tentang harga kedelai akhir-akhir menyeruak,  di berbagai daerah dipertotonkan demo perajin tahu dan tempe, dilakukan dalam berbagai ekpresi seperti turun jalan, menutup jalan untuk orasi, mogok produksi, sampai swipping pedagang tahu dan tempe di pasar. Kejadian ini terjadi di Jakarta, Bandung, Solo, dan di  kota-kota kabupaten. Alasan mereka karena biaya produksi tahu dan tempe menjadi naik dratis, dipicu harga kedelai dari Rp 6.000,- menjadi Rp 8.000,-, itupun barangnya langka. Pemerintah juga merespon, juga dengan berbagai bentuk misal Presiden SBY tidak makan tempe saat berpuka puasa,  pemerintah memfasilitasi impor kedelai dan membebaskan bea masuk kedelai hingga akhir tahun (Kompas,26/7).

Berbagai alasan pemerintah dilontarkan seperti petani saat ini tidak lagi tertarik menanam kedelai karena lebih untung menanam jagung, lahan garapan kedelai hanya 600.000 hektar, jauh dari yang semestinya 1.100.000 hektar. Petanipun jika sudah berbicara maka tentu tidak kalah sengitnya, menanam kedelai tidak ada untung, harganya bisa jeblok, kalah dengan kedelai impor, pemerintah juga tidak peduli dengan petani kedelai tentang subsidi benih dan saprotan.

Kebijakan pemerintah memfasilitasi impor kedelai dan membebaskan bea masuk kedelai hingga akhir tahun dikritik dari berbagai pihak, karena hal ini tidak akan menyelesaikan persoalan jangka panjang, atau hanya merupakan solusi instan. Kebijakan pemerintah tentang urusan pangan yang diserahkan pada pasar, atau mirip liberalisai urusan pangan, hal ini tentu saja mengesampingkan urusan pangan, komitmen memproduksi pangan di dalam negeri nol, termasuk kedelai.

Kebijakan pemerintah memfasilitasi impor kedelai dan membebaskan bea masuk kedelai tidak merupakan jawaban masalah yang dihadapi masyarakat yang terkait dengan kedelai. Pemerintah harus kembali mengurus pangan, termasuk kedelai. Ini adalah kunci jika kita ingin selamat dari krisis pangan, termasuk kedelai.

Berbagai program kerja sebagai bagian dari manajemen kedelai dapat dilakukan, misalnya:

  1. Pemerintah harus mampu menentukan kebutuhan kedelai nasional dan menentukan luas lahan tanaman kedelai yang mampu berproduksi optimal. Produksivitas lahan kedelai saat ini hanya 1,3 ton/ha/sekali tanam, maka harus dapat ditingkatkan dengan cara melakukan tersedianya bibit unggul, teknologi budidaya kedelai, sumberdaya manusia yang bermutu, dan pemberian subsidi bibit dan samprotan.
  2. Volume impor kedelai harus diturunkan secara bertahap mengikuti peningkatan produksi kedelai dalam negeri, menyusul keberhasilan program nomor 1. Pemerintah harus konsitsen dengan program di atas, dan impor kedelai 2011/2012 sebanyak 1.800 ribu metrik ton harus diturunkan sampai nol. Tarif impor kedelai perlu dilakukan sesuai perhitungan yang benar, sampai 1 Januari 2011 sebesar 5%, dananya dapat sebagai subsidi petani kedelai.
  3. Pemerintah dapat membentuk semacam penyangga harga cengkeh di era Orde Baru dengan memperbaiki manajemen pengawasan, yang diharapkan tidak terjadi penyimpangan seperi korupsi. Hal ini perlu dikudung sarana dan prasarana penanganan pasca panen kedelai, alat-alat dan bahan, gudang penyimpanan, serta sumberdaya manusia yang bermutu.
  4. Selain tiga program di atas, pemerintah dapat juga meningkatkan produksi bahan baku alternatif untuk pembuatan tahu dan tempe. Dicontohkan koro benguk dapat juga dipakai sebagai bahan baku tempe, seorang pengrajin tempe dari kabupaten Bantul saat ini mengaku tidak terpengaruh kelangkaan dan kenaikan harga kedelai.
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 2.0/5 (1 vote cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
SOLUSI PERMANEN GONJANG-GANJING HARGA KEDELAI, 2.0 out of 5 based on 1 rating
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on FacebookTweet about this on Twitter

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions