STRATEGI PEMASARAN UKM DI BIDANG PERIKANAN

Published By: Hari Palguna Sel, Agu 2nd, 2011

(Disampaikan  Pada Workshop Program Mitra Bahari ” Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) Bidang Perikanan Di pesisir Daerah istimewa Yogyakarta”  di Rumah Makan Parangtritis, Sewon, Bantul.  Sabtu, 30 juli 2011)

  1. PENDAHULUAN

Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai penduduk sejumlah 3.653.465 orang pada tahun 2010, jumlah penduduk tersebut tersebar di  5 daerah tingkat II, kota Yogyakarta, kabupaten Bantul, Sleman, Gunungkidul dan Kulonprogo. Data produksi perikanan pada tahun 2008 yakni 17.552 ton yang terdiri dari ikan budidaya 14.930 ton, dan sisanya merupakan hasil tangkapan di laut. Konsumsi ikan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2008 17,04 kg/kapita/tahun, ini sudah baik karena mengalami peningkatan sebesar 14,7 % dari tahun 2004. Namun demikian, angka tersebut menempati posisi terbawah di tingkat nasional dan jauh di bawah rata-rata nasional yakni 28,6 kg/kapita/tahun.

Kerjasama antar stage holter di bidang perikanan, khususnya budidaya ikan lele, ternyata telah memberikan pertumbuhan positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai salah satu sumber penghidupan (liveihood resources) penting bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan secara eksplisit menunjukkan usaha perikanan dapat mensejahterkan masyarakat, dicontohkan pada tahun 2010 pendapatan pelaku usaha perikanan sebesar 1,9-2,1 juta rupiah/bulan atau dua kali lipat lebih tinggi dari Upah Minimum Kabupaten (UMK) termasuk kabupaten Bantul sebesar 0,81 juta rupiah.

Keberhasilan usaha budidaya perikanan, khususnya ikan lele ternyata menimbulkan masalah tersendiri. Jumlah produksi yang terus meningkat, melampaui angka 100% yang tidak diimbangi daya serap pasar menjadikan pembudidaya ikan lele kesuliatan menjual produksinya. Jika dilihat pada data konsumsi ikan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencapai angka 44 ribu ton/tahun saat ini, baru dapat dipenuhi sekitar 17 ribu ton/tahun atau 38% nya maka nampaknya suatu peluang, sesuai hukum ekonomi suply and deman. Kenyataan di lapangan tidak demikian, justru pasar ikan lele telah dikuasi saudagar besar, khususnya komuditas ikan lele yang berasal dari luar propinsi, sehingga produk dari dalam Daerah Istimewa Yogyakarta sangat sulit bersaing. Hal ini diperparah oleh tengkulak lokal yang cenderung menekan petani ikan lele di dalam transaksi saat panen dari jumlah/berat  ikan lele, pembayaran, penimbangan dan waktu pengambilan. Jika hal tersebut diakumulasikan maka petani ikan lele akan dirugikan, yang pada akhirnya tidak mau lagi melanjutkan usaha budidaya ikan lele.

Dari masalah tersebut maka diperlukan rumusan strategi pemasan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Bidang Perikanan.

2.IDENTIFIKASI MASALAH

Sebagian dari pembudidaya ikan lele bukanlah pengusaha yang mempunyai jiwa entreptreneur, adanya usaha yang dilakukan karena dibantu oleh pemerintah pada proyek peningkatan produksi ikan konsumsi budidaya melalui Dinas Perikanan dan Kelautan berupa terpal, bibit lele dan pakan. Kondisi seperti ini akan ditunjukkan sebagian dari pengusaha budidaya bukanlah orang tangguh, jadi mudah menyerah saat menghadapi resiko berupa kerugian.

Sebagian dari pembudidaya ikan lele tidak mempunyai jaringan pemasaran, masih tergantung  pada tengkulak yang datang. Belum mempunyai keterampilan membuat deversifikasi produk  seperti pillet, olahan  cepat saji dan olahan awetan. Kelemahan ini menjadi alasan harga ikan lele saat panen di kolam dapat ditekan harganya oleh tengkulak.

Usaha budidaya ikan  lele yang dilakukan oleh perorangan jumlahnya lebih banyak daripada usaha yang dikelola bersama dalam Kelompok Usaha Perikanan (pokdakan), kalau dalam pokdakan pun biasanya usaha dalam skala kecil. Kondisi semacam ini menjadikan harga bahan baku seperti terpal, bibit, pakan dan peralatan lain dibeli secara eceran yang menyebabkan harganaya mahal.

Kelompok Usaha Perikanan (pokdakan) jika dibentuk biasanya pengurus tidak baik dalam melakukan hubungan atau  ilmu perbankan dan lembaga keuangan non bank seperti koperasi, pegadaian dan lising, karena syarat modal, membutuhkan modal banyak maka kelangsungan usaha budidaya ikan lele tergantung daripada uluran bantuan pemerintah.

Kelompok Usaha Perikanan (pokdakan) jika dibentuk biasanya para anggotanya tidak begitu baik dalam komitmen bersama, misalnya membentuk koperasi. Jika koperasi dibentuk maka akan mampu meningkatkan nilai transaksi dan dapat menekan harga-harga misalnya harga pakan dapat langsung dibeli dari pabrik, sehingga tidak melalui pengecer yang tentu harganya lebih mahal.

Lemahnya sikap mental dalam membangun kepercayaan antar sesama pembudidaya ikan lele, dengan jejaring pasar, juga pemodal. Hal ini menjadi salah satu penyebab terbesar terhambatnya usaha budidaya lele berkembang secara baik, lebih-libih pada tingkat pemasaran.

3. STRATEGI PEMASARAN

Ukuran kolam supaya diusahakan sesuai dengan rata-rata jumlah transaksi dalam kg, misalkan rata-rata jumlah transaksi 200-300 kg, ukuran kolam dibuat rata-rata (4 x 5 x 0,8 ) m3, sehingga jumlah 1 x panen  rata-rata 200-300 kg untuk size 10, sesuai dengan rata-rata jumlah permintaan. Langkah seperti ini akan memberikan kekuatan transaksi bagi pembudidaya ikan lele lebih baik daripada jika rata-rata ukuran kolamnya lebih luas misalnya (5 x 7 x 0,8) m3.

Menjalin mitra usaha secara permanen dengan tengkulak, rumah makan, pengrajin produk olahan ikan lele sehingga perkiraan rata-rata produksi persatuan waktu dapat ditentukan. Di dalam transaksi jual beli sering dijumpai masalah pembayaran, diangsur, tidak lunas pembayarannya, hal ini dapat menyebabkan terganggunya proses produksi. Solusi yang dapat ditawarkan yakni kehadiran pihak ketiga, misalkan bank. Bank dapat perperan membayar lunas setiap transaksi jual beli dan selanjutnya pembeli yang berkewajiban mengangsur kepada pihak bank, yang tentu saja sesuai kesepakan atau nota kesepahaman. Di sini perlu kehadiran pemerintah sebagai fasiltator.

Pengusaha budidaya ikan lele membentuk Kelompok Usaha Perikanan (pokdakan) dalam skala dan jaringan yang luas, serta dibentuk koperasi yang akan mampu menampung penjualan produksi, aturan dan harga dapat ditentukan sendiri. Selain itu koperasi dapat berperan menyediakan bahan produksi sehingga biaya produksi dapat ditekan dan dicapai biaya produksi yang lebih murah.  Koperasi hendaknya berbadan hukum sehingga dapat memperoleh fasiltas dari bank berupa pinjaman modal.

Koperasi yang dibentuk dapat melakukan kegiatan antara lain melakukan transaksi penjualan ikan lele segar dengan mitra kerja misalnya rumah makan, tempat wisata, supermarket, hotel, pengraji i olahan awetan ikan lele. Koperasi juga dapat merintis sendiri rumah makan ikan, pemancingan dan kerajinan olahan awetan ikan lele sehingga hal-hal tersebut dapat berperan sebagai outlet yang bersifat rutin.

Produk olahan awetan ikan lele akan dapat sebagai andalan jika memenuhi beberapa kriteria yaitu antara lain: kualitas cita rasa olahan, kesehatan dan kebersihan produk olahan, daya tahan (keawetan) produk dan kandungan gizi produk olahan. Kelebihan dari olahan awetan ikan lele yaitu dapat dijual dalam jumlah banyak, dapat sebagai souvenir (oleh-oleh) yang dijajakan di toko, rumah makan, tempat wisata, pedagang eceran, pedagang lokal, pedagang besar,  atau mungkin menjalin kerjasama dengan Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) dan Assosiasi Suplier Produk Perikanan Indonesia (ASPPI). Produk olahan awetan akan mampu meningkatkan nilai jual ikan lele hingga mencapai keuntungan lebih dari 100 % dan pada akhirnya akan mampu meningkatkan pendapatan pengusaha pembudidaya ikan lele.

Melakukan promosi produk-produk yang dihasilkan koperasi, khususnya produk olahan awetan ikan lele sehingga diketahui dan dikenal kalangan luas. Tanpa melakukan promosi produk bagus pasti dikalahkan produk yang kurang bagus, sehingga produk yang bagus tidak laku dijual. Beberapa bentuk promosi yang dapat dilakukan antara lain: melalui leaflet yang dibagi di warung-warung, iklan melalui media cetak seperti koran dan media elektronik, serta mengikuti pameran.

Adanya koperasi akan mampu memperkuat sikap mental dari para anggotanya, memperkuat komitmen melakukan usaha bersama, sehingga dapat dicapai kesejahteraan melalui proses usaha bersama dan pendidikan-pendidikan yang dapat dilakukan secara terencana.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on FacebookTweet about this on Twitter

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions