TAK ADA KONFLIK ORANGUTAN DENGAN PERKEBUNAN, yang ada perilaku keji manusia

Published By: Hari Palguna Sen, Des 26th, 2011

Tidak rasional jika kita berpendapat 50 tahun ke depan orangutan (Pongo pygmaeus) masih ada di muka bumi, alasan apapun sulit diterima karena laju “pembantaian”, meminjam istilah konflik Bosnia oleh tekanan Serbia, terus berlangsung terhadap orangutan. Pembantaian orangutan oleh ulah manusia, bukan hanya karena kebun kelapa sawitnya merasa dijarah, tetapi juga karena manusia juga memakan daging orangutan.  Berbagai pertemuan ilmiah mensingkapi hal tersebut sebagai konflik antara orangutan dengan manusia, dalam hal ini perkebunan kelapa sawit, tentu tidak dapat dibenarkan karena orang utan bukan suku Bosnia yang bisa melawan, orangutan hanyalah satwa yang dilindungi UU No.5 Tahun 1990 yang habitatnya dirambah oleh aktivitas manusia. Hutan primer yang merupakan kampung halaman bagi orang utan, telah dirambah oleh Ilegal logging, HPH, HTI yang kemudian dikenal khususnya perkebunan kelapa sawit. Selain dari itu masih banyak lagi tekanan terhadap populasi orangutan seperti pembakaran hutan, perburuan liar, dan bencana alam.

Menurut catatan dari Perhimpunan Pemerhati Primata Indonesia (Perhappi) dan The Nature Concervancy (TNC) pembantaian orang utan di Kalimanatan, Indonesia untuk kurun waktu 2007-2009 mencapai 1500-2.550 orangutan, dan terus meningkat setiap tahunnya hingga akhir tahun 2011. Menurut penelitian yang dilakukan The Nature Concervancy (TNC), diperkirakan di habitat alaminya populasinya sudah kurang dari 3500 orangutan.

Oleh kenyataan itu maka diperlukan upaya serius untuk dapat melindungi dan mengembangkan jumlah anggota populasi orangutan, sehingga kepunahan orangutan 50 tahun kedepan dapat dihindari. Populasi orangutan selain yang di insitu, juga  ada yang terdapat di habiat eksitu. Upaya serius  harus dilakukan meliputi: (1) Strategi peningkatan pelaksanaan konservasi insitu, (2) strategi pengembangkan konservasi eksitu, dan (3) strategi peningkatan penelitian.

(1)    Strategi peningkatan pelaksanaan konservasi insitu, perlu adanya penindakan yang jelas dan pasti atas pelanggaran-pelanggaran hukum di lapangan yang mendorong lajunya kepunahan terhadap orangutan. Sosialisasi segala produk hukum yang dapat melindungi orangutan harus terus dilakukan, sehingga pelanggaran tidak terjadi.  Perlu dilakukan penyadaran terhadap perilaku “biadab”, seperti memakan daging orangutan, jika terbukti seseorang melakukan hal ini harus dihukum seberat-beratnya. Konservasi kawasan harus dilakukan sehingga orang utan dapat melakukan aktivitas hidup normal dan mendapat kebutuhan hidup oleh sumberdaya alam yang tersedia.

(2)    Strategi pengembangkan konservasi eksitu, keberadaan populasi orangutan yang ada di Lembaga Konservasi (LK) di seluruh dunia, di Indonesia kebanyakan di Lembaga Konservasi seperti kebun binatang harus dilakukan pemantauan oleh berbagai pihak seperti pemerintah, LSM, dan masyarakat. Kebun binatang dalam memperlakukan orangutan di habitat eksitu harus sesuai dengan ethic and animals walfare, sehingga orangutan di habitat eksitu dapat hidup normal dan berkembang biak. Sehingga fungsi kebun binatang sebagai benteng terakhir dapat dicapai. Lebih dari itu kebun binatang harus mampu mengembangkan teknologi untuk dapat mengembangkan populasi orangutan di habitat eksitu. Untuk kebun binatang yang melanggar harus mendapatkan sangsi yang berat, termasuk menutup kebun binatang atau memberi sangsi hukuman kurungan bagi pengelola.
(3)    Strategi peningkatan penelitian, penelitian masalah perilaku, sistem reproduksi dan sistem digestorium harus terus ditingkatkan tanpa menapikan penelitian tentang genetika, penyakit dan lain-lainnya tentang orangutan. Penelitan tentang ekologi, hutan lindung, distribusi, sosiologi masyarakat dan sosiologi industri yang berkaitan erat dengan konservasi orangutan di habitat eksitu. Penelitian di habitat eksitu mencakup perilaku, sistem reproduksi dan sistem digestorium, juga masalah penyakit orangutan. Kegiatan penelitian harus terus dilakukan yang melibatkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perguruan Tinggi (PT), dan LSM. Hasil-hasil penelitian harus dapat diaplikasikan di lapangan, di lakukan monitoring dan evaluasi. Kegiatan ini harus mendapatkan perhatian dan biaya dari pemerintah dan swasta sperti CSR. Strategi penelitian ini untuk mendukung pelestarian dan pengembangan orangutan di habitat insitu dan eksitu.

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on FacebookTweet about this on Twitter

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions