TEKNIK PEMELIHARAAN SPESIMEN AWETAN FLORA DAN FAUNA

Published By: Hari Palguna Rab, Nov 2nd, 2011

PENGANTAR

Teknik pemeliharaan spesimen awetan flora dan fauna merupakan bagian dari pekerjaan unit preparasi di dalam pengelolaan museum botani maupun zoologi, merupakan bagian penting, sehingga tidak boleh diabaikan.

Di dalam pengelolaan museum, khususnya museum botani dan zoologi, pekerjaan unit preparasi mencakup empat macam penanganan yaitu (1) konservasi, (2) preparasi, (3) restorasi, dan (4) reproduksi koleksi.

Jika teknik pemeliharaan spesimen awetan diasumsikan sebagai pekerjaan untuk mencegah terjadinya kerusakan, merawat dan memperbaiki jika terjadi kerusakaan spesimen awetan. Maka dapat diasumsikan teknik pemeliharaan spesimen awetan mencakup pekerjaan pokok berupa konservasi dan restorasi, tidak mencakup pekerjaan preparasi dan reproduksi koleksi.

Sebenarnya ada satu macam pekerjaan lain yang sangat penting dan harus dipersiapkan secara matang yakni mempersiapkan pameran, termasuk di dalamnya teknik penandaan spesimen awetan sehingga dapat mencapai tujuan yang dimasudkan moseum.

PENANGANAN

Indonesia merupakan termasuk daerah tropis, mempunyai dua musim, kemarau dan penghujan. Selain itu juga merupakan negara kepulauan, sehingga pengaruh buruk udara laut, kadar garam terhadap koleksi museum, khususnya koleksi spesimen awetan kering  flora maupun fauna cukup besar. Sedangkan efek terhadap spesimen awetan basah flora dan fauna tidak begitu besar, kerusakan spesimen awetan basah lebih banyak disebabkan oleh kelalaian. Misalnya kontrol yang tidak begitu baik, sehingga cairan pengawet tidak merendam seluruh bagian spesimen awetan, yang tentu saja bagian yang tidak terendam caiaran akan lebih cepat  rusak.

Berbagai macam kerusakan yaitu antara lain, khususnya spesimen awetan kering flora dan fauna yaitu antara lain:

Kerusakan fisik, spesimen kotor, berdebu, sobek dan mengelupas. Penanganan berupa pembersihan spesimen secara teratur, kontrol kelembaban (50-65 %), suhu udara (21-23oC), dan penambalan. Untuk spesimen kering yang diletakkan di dalam ruang kaca dan spesimen basah tidaklah sulit mencegah dan membersihkan kotoran, atau debu. Jika spesimen awetan kering robek maka sebaiknya dilakukan restorasi seperti melakukan pengeleman atau penjahitan. Sobek dan mengelupas akan dapat dihindari jika kontol kelembaban dan suhu dilakukan secara tertip.

­­­­­­­­­­­­­­Kerusakan kimia, spesimen awetan mengalami perubahan warna. Penanganan berupa kontol kelembaban (50-65 %), suhu udara (21-23oC) dan intensitas cahaya dapat dipantau dengan lux meter. Jika tiga tolok ukur fisik tersebut di pantau, dikontrol secara tertip maka perubahan kimia pada spesimen awetan dapat dihindari. Kelebihan intensitas sinar akan menyebabkan spesimen awetan cepat rusak, hal ini dapat dihindari dengan cara memberi penghalang dari sumber sinar sehingga intensitas sinar dapat disesuaikan dengan ke butuhan spesimen awetan.

Kerusakan biotis, spesimen mengalami pembusukan, rontok, berlubang-lubang yang disebabkan jamur atau serangga. Penanganan berupa fumigasi, disemprot insektisida, dan dapat juga dilakukan pendinginan (deep freezer).

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
berbagi dengan temanShare on FacebookTweet about this on Twitter

Leave a GuestBook


Note : Please do not make spam. Thank You For Giving Opinions